Apa kabarmu hari ini?
Barangkali kamu bertanya untuk apa aku menanyakan ini.
Bukankah kita bertemu
hampir setiap hari, begitu pikirmu pasti.
Tetapi,kali ini aku tidak sedang berbasa-basi.
Belakangan aku merasa resah karena kamu berubah.
Kamu tentu berhak untuk itu — untuk perubahan.
Seperti orang yang setiap harinya juga tidak pernah sama.
Aku pun bukan seorang posesif yang akan menuntutmu untuk
selalu sama.
Namun,ketika perubahan itu membuatmu tidak lagi menjadi
dirimu, aku sungguh tidak rela.
Ingatkah kamu akan perjumpaan pertama kita? Ah, pasti kamu
sudah lupa.
Sekitar tahun 2008,Saat itu aku sedang di Balikpapan.
Saat itu kamu sedang berdandan,dan kamu belum setenar
sekarang.
Aku bisa merasakan
bahwa kamu berbeda dengan yang lain,walaupun saat itu kamu tampak berantakan.
Padamu, ada kecantikan
yang tidak mampu kuceritakan.
Perlahan, aku mulai mengenalmu, dan aku menikmati setiap
pertemuanku denganmu.
Bahkan, setiap kali
hendak menjelajah dunia, aku sering kali mampir ke rumahmu,meski sekadar lewat.
Aku melewati berjam-jam bersamamu.
Aku menikmati
detik-detik dengan sabarmu.
Perlahan juga, semakin banyak orang yang menyukaimu, apalagi
setelah kamu semakin cantik,
Lihat saja macam-macam orang yang ingin menyematkan foto
ditubuhmu: dari remaja, pemuda, model, orang tua, bahkan pasangan nikah,
Kamu, bagi mereka, adalah surat — tempat mereka bisa
menerima kabar,memberi kabar,menikmati waktu, hingga memadu cinta.
Aku tidak merasa perlu untuk cemburu dengan mereka.
Tubuhmu memang terlalu lapang untuk dinikmati olehku
sendiri.
Kesediaanmu untuk
menerima siapa pun justru membuat tubuhmu kini terasa sesak.
Yang tersisa darimu adalah kesemrawutan yang memenuhi
sekujur tubuhmu.
Kamu, yang dulu bagi mereka adalah surat, kini dipenuhi
dagangan makanan, baju, cincin, sepatu, telepon genggam, dan lain-lain.
Oh, apa bedanya kamu kini dengan yang lain, yang menjual
diri untuk transaksi jual-beli semata?
Dengan segala rasa sayang bercampur cemas, aku berharap kamu
baik-baik saja, FACEBOOK.